News

Update informasi

Perlambatan Ekonomi Tidak Sama memakai Penurunan Omzet

Perlambatan Ekonomi Tidak Sama memakai Penurunan Omzet

Image source: https://www.harianumum.com/media/post/d0715227bbdcc61e9672690fd57314ff.jpg

Tahun 2008 ketika saya masih berkuliah di Jakarta, adalah ketika awal booming-nya "laptop", & ketika itu barang tersebut masih sangat mahal. Jadi, kalangan mahasiswa lebih banyak beralih ke PC Rakitan di mana "Mangga Dua" adalah pusatnya. Hampir semua mahasiswa di Jakarta pernah merasakan keliling-keliling di Mangga Dua baik buat mencari komponen PC maupun membeli laptop/PC. Dulu parkir di sana susahnya bukan main. Kini lihatlah kondisi Mangga Dua kini. Terakhir ke sana kurang lebih tiga bulan kemudian & mobil saya hingga galau mau diparkir di mana karena saking sepinya.

Jadi, bukan perlambatan ekonomi jikalau bisnis kita menurun karena konsumen kita beralih ke penjual yang lain, merek yang lain, atau jenis barang lain karena niscaya ada pihak di luar sana yang mendapatkan kenaikan. Perlambatan ekonomi terjadi jikalau terjadi penurunan namun nir ada pihak mana pun yang mendapatkan kenaikan karena konsumen nir beralih ke mana-mana dalam memakai uangnya. Harga barang semakin tinggi namun pendapatan tetap. Hal ini hanya bisa terjadi jikalau pendapatan konsumen nir bisa mengikuti daya beli/harga barang yang semakin naik di hampir semua sisi & penyebabnya adalah inflasi. Gaji tetap 4 juta namun dulu yang sekali makan nasi kemasan harganya cuma 10.000 kini naik menjadi 12.000.

Berselancar di mayapada maya memang bisa menemukan banyak hal menarik, mulai video "Tutorial Unboxing Nasi Padang" hingga bagaimana cara merakit sendiri sinar laser yang bisa membakar rumah seseorang dalam sekejap. Ada banyak warta yang tersedia & kadang kesannya terlalu liar karena warta tersebut tersaji dalam banyak sekali sudut pandang & opini si pembuatnya.

Pasar laptop maupun PC rakitan memang menurun sejak adanya tablet PC & smartphone. Kalau dipikir-pikir, toh sebagian dari kita memang membeli barang tersebut lebih banyak digunakan buat berinternet ria dibanding hal-hal yang sifatnya pekerjaan. Kini sesudah fungsi tersebut bisa digantikan tablet bersama harga yang lebih murah, tentu saja peminat PC atau laptop semakin menghilang. Kini pembeli PC sebagian lebih banyak ke segmen korporat atau perkantoran & bisnis. Itu pun mereka nir perlu spesifikasi yang perlu di-upgrade setiap tahun sebagai akibatnya nir ada urgensi buat membeli barang yang sama.

Perlambatan Ekonomi Tidak Sama bersama Penurunan Omzet

Apakah yang terjadi bersama pedagang di Mangga Dua & pedagang sanitary tersebut merupakan perlambatan ekonomi atau hanya penurunan omzet?

Perlambatan Ekonomi, terjadi secara global, bisa dalam skala mayapada, regional, maupun negara. Jadi jikalau hanya skala kota pun belum bisa diklaim sebagai perlambatan karena ruang lingkupnya yang terlalu mini. Dan… terjadi di hampir semua jenis produk baik barang maupun jasa. Jadi bukan perlambatan ekonomi namanya jikalau bisnis travel Knda hampir bangkrut karena konsumen beralih ke pemesanan tiket online. 

Berdasarkan data BPS ekonomi Indonesia justru mengalami kenaikan. Sayangnya produk yang dihasilkan selama ini lebih banyak diekspor sebagai akibatnya jikalau walaupun ekonomi di Indonesia mengagumkan namun ada negara yang kondisi ekonominya sedang buruk, maka lama-lama akan berimbas pula pula ke negara ini. Kebijaksanaan masyarakat dalam memilah warta sangat diperlukan di era di mana semua hal bisa dihasilkan secara gampang. Informasi bisa digunakan oleh banyak sekali pihak & kadang-kadang buat tujuan yang nir sinkron atau menggiring opini.

Seorang pengusaha pemilik toko di sebuah kota di Sulawesi sempat berbincang kepada saya, tokonya yang menjual alat-alat sanitary (keran air, selang, wastafel, dll) ketika ini sepi pengunjung karena perlambatan ekonomi, bahkan sempat menyalahkan pemerintah & bersedia berdemo ke Istana Negara kalau saja ada yang mengajaknya. Padahal, tahun tersebut, perusahaan besar penjual produk serupa yang kita samarkan saja namanya menjadi "ABC Hardware" dalam kurun waktu yang sama membuka tenant-nya di harta benda kota tersebut.

Salah satunya adalah mengenai "perlambatan" ekonomi yang mungkin dialami banyak sekali negara di mayapada (& apakah di Indonesia pula?). Lucunya membaca komentar-komentar banyak sekali orang banyak yang mengeluhkan toko yang sepi, penjualan yang menurun, & bonus yang nir dihasilkan karena nir terpenuhinya sasaran menjadi banyak sekali opini seseorang ihwal adanya perlambatan ekonomi. Padahal, walaupun kesannya mirip, ada perbedaan yang relatif terperinci antara ekonomi yang melambat & penurunan omzet suatu bisnis.

Lalu apakah indonesia pula mengalaminya? Hanya ada dua cara mengetahuinya, yaitu melalui data dari Badan Pusat Statistik & melihat indikator ekonomi misalnya inflasi/deflasi. Kenapa demikian? Karena perlambatan ekonomi terjadi di hampir semua jenis barang & jasa. Katakanlah seseorang karyawan bergaji 4 juta per bulan, tahun-tahun sebelumnya bisa menghabiskan 3 juta uangnya buat kebutuhan makan, pulsa, jalan-jalan & sebagainya. Kini sesudah ada acara rumah subsidi, beliau bersedia berhemat konsumsinya buat membayar cicilan rumah. Dari kacamata pemilik warung makan, karyawan tersebut mengakibatkan penurunan omzet, namun dari kacamata developer rumah subsidi ini menyampaikan kenaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.